<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Batik Jambi Online</title>
	<atom:link href="http://batikjambi.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://batikjambi.net</link>
	<description>Toko Batik Jambi Online</description>
	<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 15:39:03 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Azmiah, Pelestari Batik Jambi</title>
		<link>http://batikjambi.net/azmiah-pelestari-batik-jambi.phtml</link>
		<comments>http://batikjambi.net/azmiah-pelestari-batik-jambi.phtml#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 15:39:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>batik jambi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://batikjambi.net/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Jambi. Kompas.com, Bukan pilihan mudah bagi seorang perajin untuk bertahan pada karya batik tulis di zaman sekarang ini karena usaha tersebut sudah tidak populer dan banyak ditinggalkan dengan alasan pengerjaannya yang repot. Ditambah lagi, sulitnya menemukan pasar karena harga jualnya relatif mahal.
Namun, Azmiah yang sudah 30 tahun bergelut dengan batik tulis jambi seperti cuek saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jambi. Kompas.com, Bukan pilihan mudah bagi seorang perajin untuk bertahan pada karya batik tulis di zaman sekarang ini karena usaha tersebut sudah tidak populer dan banyak ditinggalkan dengan alasan pengerjaannya yang repot. Ditambah lagi, sulitnya menemukan pasar karena harga jualnya relatif mahal.</p>
<p>Namun, Azmiah yang sudah 30 tahun bergelut dengan batik tulis jambi seperti cuek saja oleh perkembangan tersebut. Saat ratusan perajin batik di kampungnya telah beralih ke batik cap supaya bisa menarik konsumen dengan harga jual murah, ia malah menggaet desainer-desainer daerah untuk menggunakan batik tulis buatan tangannya.<br />
<span id="more-9"></span><br />
Azmiah malah nekat menyumbangkan 25 kain batik tulis dengan pewarnaan alami pada Kiki Fikri, Ketua Asosiasi Perancang Model se-Jambi, dan sebagai imbalan, hasil karyanya dipertunjukkan pada perayaan Ulang Tahun Emas Provinsi Jambi akhir Desember lalu. “Biaya yang dikeluarkan sangat besar buat orang biasa seperti saya ini. Namun, saya harus berani berkorban dulu kalau mau membawa batik tulis jambi dikenal ke luar,” tuturnya.</p>
<p>Azmiah lahir di Kota Jambi, 1 Agustus 1966. Sejak usia 10 tahun, perempuan yang tinggal di seberang Sungai Batanghari, Kampung Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Jambi, ini telah mulai membatik.</p>
<p>Hanya dari menyaksikan mendiang ibunya, Asmah, yang jadi buruh membatik, ia lalu mencoba-coba membatik di atas daun pisang. Ia menjadi mahir membatik kala memasuki kelas enam sekolah dasar dan hasil karyanya dibeli salah seorang perajin setempat.</p>
<p>Uang penjualan batik langsung dibelikan kain mori, lalu dibatik, dijual, dan hasilnya dibelikan lagi kain mori. Begitu seterusnya. Pada masa-masa itu, di saat minat masyarakat pada seni tradisional menggebu-gebu, Azmiah mampu menyelesaikan batik tulisnya hanya dalam sepekan di atas kain berukuran 1,15 meter X 2,5 meter.</p>
<p>Setelah mengumpulkan uang, Azmiah yang baru tamat SMEA membuat usaha batik tulis sendiri bersama ibunya dan diberi nama “Kreasi Batik Asmah”. Kekhasan usahanya adalah batik tulis jambi—khas dengan motif Angso Duo dan warna-warna terang—dilakukan melalui pewarnaan alami. Ia ingat betul, sejak kecil dirinya sering ikut sang ibu masuk-keluar hutan mencari berbagai jenis kayu, kulit kayu, dan daun yang bisa dijadikan pewarna.</p>
<p>Hingga kini ia masih saja getol masuk-keluar hutan atau kebun di sekitar kampungnya untuk mencari bahan-bahan pewarna alam, seperti kulit lempato, kulit kayu marelang, getah kayu tunjung, dan kayu jelawe.</p>
<p>Ia pun tidak enggan mencoba-coba bahan baru untuk menghasilkan warna-warna yang lebih beragam. Sejumlah tanaman ia tanam di halaman rumah. Ada juga jenis pewarna alami yang tidak diperolehnya di Jambi, seperti biji pohon tinggi dan daun nila yang langsung dia beli dari Yogyakarta.</p>
<p>Ia mengakui, penggunaan bahan-bahan alami akan menghasilkan warna yang cenderung muda atau mungkin sedikit terkesan kusam. Ini berbeda dengan selera orang-orang Melayu di Jambi yang lebih menyukai batik berwarna terang atau ngejreng.</p>
<p>Untuk menyiasati, Azmiah melakukan pewarnaan berulang-ulang sampai 36 kali bagi setiap kain. Memang jadi lebih repot dan capai, tetapi hasilnya sangat mengagumkan. Warna-warna yang kuat dengan perpaduan yang selaras.</p>
<p>Motif khusus</p>
<p>Ketika Kompas berkunjung, Azmiah yang tengah serius membatik di samping jendela rumah panggungnya bersemangat memperlihatkan sejumlah karya batik tulisnya yang dibuat lewat pewarnaan alami dengan motif khusus hasil kreasi suaminya, Edy Sunarto. Setidaknya sudah terkumpul 20-an motif kreasi yang dalam waktu dekat akan dipatenkan.</p>
<p>Motif-motifnya dibuat supaya jadi kekhasan Jambi, di antaranya motif Candi Muaro Jambi, Kaca Piring, Puncung Rebung, Angso Duo Bersayap Mahkota, Bulan Sabit, Pauh (mangga), Antlas (tanaman), Awan Berarak, dan Riang-riang. Beberapa batik tulis tersebut telah disimpan sebagai koleksi Honimen Museum and Gardens, Forest Hill, London, dan di Trouven Museum di Belanda.</p>
<p>Kini hampir tak ada lagi perajin yang sanggup membikin batik tulis jambi. Dalam sepuluh tahun terakhir, perubahan di masyarakat telah membuat para perajin beralih ke batik cap. Malah mulai tahun 2000-an industri batik tulis di Jambi berangsur meredup.</p>
<p>Sebagian besar perajin banyak menutup usahanya. Anak-anak muda pun tak peduli, atau mungkin menganggapnya sebagai kegiatan yang menjenuhkan.</p>
<p>Keinginan untuk mengangkat kembali batik tulis Jambi mendorong perempuan yang pernah mengajari membatik ibu-ibu dan remaja di Aceh tahun 2001 ini sejak Desember lalu mencari-cari para remaja putus sekolah di Jambi untuk diajari membatik.</p>
<p>“Saya maunya ngajak remaja perempuan yang putus sekolah. Mereka akan saya ajari membatik tulis sampai bisa mandiri untuk membuka usaha serupa,” tutur Azmiah yang sedang mengembangkan rumahnya menjadi bertingkat. Lantai atas akan ia dijadikan ruang pamer, sedangkan di bawahnya jadi ruang membatik untuk calon murid-muridnya, termasuk dua putrinya yang kini sudah mulai belajar membatik, Dita (12) dan Ayu (9).</p>
<p>Menurut Azmiah, pada perempuan-perempuan muda inilah nanti harapan akan kelestarian tradisi batik tulis jambi digantungkan. “Jadi,” kata Azmiah, “Kalau tidak segera dimulai, kapan lagi?”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://batikjambi.net/azmiah-pelestari-batik-jambi.phtml/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Batik Jambi Sulit Bersaing</title>
		<link>http://batikjambi.net/batik-jambi-sulit-bersaing.phtml</link>
		<comments>http://batikjambi.net/batik-jambi-sulit-bersaing.phtml#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 15:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>batik jambi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://batikjambi.net/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[JAMBI. jambiekpres.co.id, Produk batik Jambi sepertinya masih sulit bersaing di era global. Mengingat, harga jual produksinya terlalu tinggi. Sementara batik produksi dari pulau Jawa dijual dengan harga yang lebih murah. Hal inipun diakui oleh perajin batik kelurahan Tanjung Raden, Ahyaruddin kemarin.
Menurutnya, tingginya harga batik Jambi saat ini merupakan imbas dari kenaikan bahan bakar minyak (BBM). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAMBI. <strong>jambiekpres.co.id</strong>, Produk batik Jambi sepertinya masih sulit bersaing di era global. Mengingat, harga jual produksinya terlalu tinggi. Sementara batik produksi dari pulau Jawa dijual dengan harga yang lebih murah. Hal inipun diakui oleh perajin batik kelurahan Tanjung Raden, Ahyaruddin kemarin.</p>
<p>Menurutnya, tingginya harga batik Jambi saat ini merupakan imbas dari kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Dimana ongkos transportasi pengiriman bahan baku juga mengalami kenaikan.</p>
<p>‘’Dulunya permeternya hanya Rp.85.000 untuk jenis yang menggunakan komponen sutra. Sekarang menjadi Rp.90.000 dan juga komponen batik yang terbuat dari katun sekarang harga permeternya sudah Rp.35.000 dari Rp.27.000,’’ tuturnya.<br />
<span id="more-8"></span><br />
Untuk mensiasati hal tersebut, katanya, perajin batik mengadakan agen pemasaran di setiap kabupaten. Ini untuk meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pemasaran.</p>
<p>Hal serupa juga dikatakan Nila perajin batik Buluran Kenali. Menurutnya, harga batik saat ini memang tinggi. Dimana kenaikan ini bukan hanya karena biaya transpotasi, tetapi juga harga bahan baku.</p>
<p>“Sekarang mahal semua batik tidak ada lagi yang murah habis cosnya naik,” tutur Nila kemarin.</p>
<p>Meski demikian, katanya, harga daya beli masyarakat cukup tinggi.karena saat ini batik sudah menjadi trend dan selalu mengikuti zaman dan keinginan konsumennya.</p>
<p>“Sekarang yang pakai batik bukan hanya orangtua, tapi juga banyak di gemari anak-anak muda,” tandasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://batikjambi.net/batik-jambi-sulit-bersaing.phtml/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengrajin Batik Jambi kian Ramai, Batik Nuraini Usung Kualitas</title>
		<link>http://batikjambi.net/pengrajin-batik-jambi-kian-ramai-batik-nuraini-usung-kualitas.phtml</link>
		<comments>http://batikjambi.net/pengrajin-batik-jambi-kian-ramai-batik-nuraini-usung-kualitas.phtml#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 15:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>batik jambi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita Batik Jambi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://batikjambi.net/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[JAMBI. Jambiekspres.co.id, - Mengenakan Batik Jambi niscaya akan bisamembuat Anda merasa lebih percaya diri.  Pria yang memakai batik Jambi tampak lebih berwibawa, dan memiliki daya tarik tersendiri. Begitu pula wanita tampak lebih anggun dan cantik.
Batik khas Jambi kini tidak hanya merambah pasar lokal, tetapi regional, nasional, dan bahkan luar negeri. Dengan kekuatan warna dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAMBI. <strong>Jambiekspres</strong>.co.id, - Mengenakan Batik Jambi niscaya akan bisamembuat Anda merasa lebih percaya diri.  Pria yang memakai batik Jambi tampak lebih berwibawa, dan memiliki daya tarik tersendiri. Begitu pula wanita tampak lebih anggun dan cantik.</p>
<p>Batik khas Jambi kini tidak hanya merambah pasar lokal, tetapi regional, nasional, dan bahkan luar negeri. Dengan kekuatan warna dan motif yang khas, batik Jambi laris manis, diminati, dicari, bahkan diburu. Gerai dan galeri Batik Jambi bahkan tersebar, mulai dari kelas rumah tangga hingga pusat perbelanjaan dan hotel berbintang.<br />
<span id="more-7"></span><br />
Salah satu Pengrajin Batik Jambi Nurani, menjual batik Jambi di rumahnya sendiri, tepatnya di Jalan Ibrahim Nomor 99 Rt 22 RW 06 Kelurahan Kenali Besar Kecematan Kota Jambi. Usaha ini diakui Nuraini telah dilakukannya sejak lebih kurang 10 tahun lalu,  yang merupakan lanjutan usaha orang tuanya.</p>
<p>Pangsa pasar Batik Jambi pun tidak hanya di Kota Jambi, tapi sudah merambah ke daerah-daerah pedesaan. Bahan yang tersedia yaitu kain dasar bahan sutra, semi sutra, santung, dan serat nenas beserta selendanya, dengan harga yang beragam, tentunya terjangkau. Khusus untuk kain dasar bahan sutra  Rp 100.000,-/meter dan bahan santun Rp 50.000,-/meter.</p>
<p>“Dengan berbisnis dan memakai batik Jambi berarti telah melestarikan ciri khas daerah Jambi,” ujar Nuraini saat ditanya tentang keseriusannya menekuni bisnis ini.  Peminatnya pun semakin banyak, karena kualitasnya pun seumur hidup tergantung dari pemeliharaan. Dapat dipakai untuk seragam guru, kantor, acara resmi, pakaian pribadi dan lain sebagainya, jelas Nurani mengapa ia bebisnis batik Jambi.</p>
<p>Penjualan di Pengrajin Nurani ini bisa secara tunai maupun kredit dan menerima pemesanan. Namun untuk saat ini penjualan agak menurun dikarenakan harga bahan pokok meningkat sehingga masyarakat agak kesulitan dalam menyisihkan uang untuk membeli bahan skunder. Terang Nur lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://batikjambi.net/pengrajin-batik-jambi-kian-ramai-batik-nuraini-usung-kualitas.phtml/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Batik Jambi Kembali Menggeliat</title>
		<link>http://batikjambi.net/batik-jambi-kembali-menggeliat.phtml</link>
		<comments>http://batikjambi.net/batik-jambi-kembali-menggeliat.phtml#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 15:07:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>batik jambi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://batikjambi.net/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Batikindonesia.info, SETELAH terpuruk saat krisis moneter yang berlanjut menjadi krisis multidimensi tahun 1998, perkembangan batik khas Jambi kembali menggeliat sejak tiga tahun lalu. Tangan terampil remaja putri, kaum ibu, dan bahkan nenek-nenek kembali memegang canting. Menarik garis lurus, berkelok, mendatar, dan melengkung mengukir hari depan di atas kain, mengikuti pola atau berimprovisasi mengikuti suasana hati.
SANGGAR [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Batikindonesia.info</strong>, SETELAH terpuruk saat krisis moneter yang berlanjut menjadi krisis multidimensi tahun 1998, perkembangan batik khas Jambi kembali menggeliat sejak tiga tahun lalu. Tangan terampil remaja putri, kaum ibu, dan bahkan nenek-nenek kembali memegang canting. Menarik garis lurus, berkelok, mendatar, dan melengkung mengukir hari depan di atas kain, mengikuti pola atau berimprovisasi mengikuti suasana hati.</p>
<p>SANGGAR batik yang ada berderak. Tanda-tanda kehidupan pun tampak. Seperti Sanggar Batik Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Desa Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi. Wisma Batik Seri Tanjung di Jalan Prof Dr Sri Sudewi, Telanaipura, serta Yayasan Bina Lestari Budaya Jambi– Kajang Lako Art Centre di Pal 10 Kenali Asam.</p>
<p>Begitu pula di ratusan rumah tangga di Kecamatan Pelayangan dan Danau Teluk, serta tempat lainnya di Kota Jambi yang mengelola industri kecil batik secara sederhana. Aroma kain baru, cairan lilin yang dipanaskan, dan aroma zat pewarna kembali menyengat.<br />
<span id="more-6"></span><br />
Batik khas Jambi kini tidak hanya merambah pasar lokal, tetapi regional, nasional, dan bahkan luar negeri. Usaha batik khas Jambi dengan skala menengah (20-30 pembatik) dan skala rumah tangga (2-5 pembatik) tumbuh menjamur. Dengan kekuatan warna dan motif yang khas, batik Jambi laris manis, diminati, dicari, bahkan diburu. Gerai dan galeri batik tersebar, mulai dari kelas rumah tangga hingga pusat perbelanjaan dan hotel berbintang.</p>
<p>Industri kecil rumah tangga yang mengelola batik secara sederhana menggelinding dan berkembang menjadi komoditas unggulan daerah ini sehingga menampung banyak tenaga kerja. “Saat ini di Provinsi Jambi terdapat lebih dari 1.500 perajin batik dengan lebih dari 100 pengusaha batik. Sekitar 80 persen di antaranya berada di Kota Jambi,” kata Kepala Subdinas Industri Kecil dan Dagang Kecil, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, H Nasrul. Satu di antaranya adalah Koperasi Kajang Lako di Danau Teluk yang memasok berbagai keperluan pembatik. Seiring dengan itu, bisnis bahan baku batik pun terangkat, mulai dari bahan dasar seperti katun, sutra, alat tenun mesin/alat tenun bukan mesin (ATBM/ ATM), pewarna, sampai canting.</p>
<p>Agus (33) dari Wisma Batik Jambi Seri Tanjung di Jalan Prof Sudewi mengatakan, Wisma Seri Tanjung memiliki 25 pembatik, umumnya mereka mengerjakan batik di rumah masing-masing. “Para pembatik hanya menembok (menempel lilin pada bagian tertentu) dengan upah Rp 5.000 per helai batik,” ucap Agus.</p>
<p>“Seri Tanjung menjual batik Jambi (kain dan selendang) dari bahan sutra ATBM dengan harga Rp 650.000, kain batik sutra untuk baju (2,5 meter) Rp 225.000 per potong. Dari bahan katun Rp 75.000-Rp 100.000 per potong. Omzet penjualan Seri Tanjung setiap bulan mencapai Rp 30 juta hingga Rp 50 juta,” katanya lagi.</p>
<p>Saat ini omzet penjualan batik khas Jambi setiap bulan diperkirakan Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar.</p>
<p>LINDA (24), penduduk Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi, adalah satu dari ribuan orang yang mendapat berkah dari kebangkitan kembali batik Jambi. Ia memanfaatkan rumah panggung yang sudah berusia hampir 100 tahun, warisan keluarganya, untuk kegiatan membatik. Di ruang tengah ukuran 4 x 5 meter dengan lantai yang ditutupi plastik usang, Linda mempekerjakan tiga orang tetangganya. “Untuk menembok di dasar batik upahnya Rp 1.250 per meter. Satu orang bisa selesai dua lembar kain (lima meter) sehari atau dengan penghasilan Rp 6.000,” ujarnya.</p>
<p>Perempuan muda beranak satu ini mulai belajar membatik sejak berusia 11 tahun. “Pengetahuan saya tentang batik masih rendah, saya ingin memperdalam, belajar ke Solo dan Yogyakarta, tetapi saya tidak punya uang,” tuturnya.</p>
<p>Menurut Linda, meskipun kecil-kecilan, hasil usahanya itu lumayan. Setiap bulan bisa ada pesanan sampai 20 lembar, kadang lebih. “Omzet saya sebulan bisa Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Satu lembar selendang sutra dijual Rp 190.000 dan kain batik katun Rp 75.000 per potong,” tuturnya.</p>
<p>“Satu potong batik biasanya selesai dalam tiga hari. Harga bahan sutra Rp 50.000 per meter, katun Rp 11.000, dan santung Rp 8.000 per meter. Baik bahan maupun zat pewarna tidak sulit didapat. Di sini ada Koperasi Kajang Lako yang menjualnya,” ujar Linda.</p>
<p>Sementara Asmia (39) menekuni usaha batik Jambi sejak dari almarhumah ibunya, Asmah. Kini ia memiliki gerai batik dengan persediaan batik khas Jambi, baik dasar katun, santung, maupun sutra dalam jumlah cukup banyak di rumahnya di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Pemilik usaha dengan 30 perajin ini pernah membuka gerai di pusat perbelanjaan, tetapi kini sudah tutup.</p>
<p>“Di rumah lebih laku ketimbang gerai di pasar karena peminat lebih suka datang ke rumah. Mungkin mereka menganggap harganya lebih murah,” tutur Asmia. Biarpun hanya digelar di rumah, omzet Asmia sebulan berkisar Rp 6 juta hingga Rp 10 juta, dengan keuntungan 15-20 persen.</p>
<p>Ibu Asmia, Asmah, termasuk perintis pengembangan atau bangkitnya kembali batik Jambi. Pada awal kemerdekaan, bersama rekannya, Zainab (almarhumah), Asmah bahu- membahu menghidupkan batik khas Jambi setelah terhenti beberapa waktu pada zaman penjajahan Jepang.</p>
<p>Pada saat itu Ny Asmah membuat batik khas Jambi dengan bahan pewarna kayu lampato, kulit merlang, dan nila hitam. Motifnya ditiru dari motif batik khas Jambi yang masih tersisa, di antaranya dari kain batik yang telah lapuk.</p>
<p>Sayang, sejak beberapa tahun lalu Asmia tak membuat lagi batik dengan bahan alami sebagaimana dilakukan ibunya dulu. Batik lapuk yang dulu ditiru ibunya kini tak ada lagi.</p>
<p>KINI, batik khas Jambi, baik yang terbuat dari katun, santung, maupun sutra yang dibuat dengan ATBM maupun ATM diperdagangkan secara luas. Pertumbuhannya bahkan lebih cepat dibandingkan dengan era akhir 1980-an hingga akhir 1990-an. Batik khas Jambi dicari untuk dijadikan baju, koleksi, kenang-kenangan, dan cenderamata.</p>
<p>“Pria yang memakai batik Jambi tampak lebih anggun, berwibawa, dan memiliki daya tarik tersendiri. Begitu pula wanita yang memakai kain dan selendang batik Jambi, tampak lebih cantik,” ujar Ida Mariyanti, tenaga fungsional dan penyuluh batik Jambi dari Subdinas IKDK.</p>
<p>Industri batik khas Jambi yang pada 20 tahun lalu hanya tumbuh dan berkembang di Kota Jambi, bahkan lebih sempit lagi hanya di beberapa desa di Kecamatan Danau Teluk dan Pelayangan, sejak 15 tahun lalu merambah ke kabupaten lain, seperti Kabupaten Tebo, Kerinci, Merangin, Sarolangun, dan Tanjung Jabung Barat (Tanjabar).</p>
<p>Kegiatan ini telah menambah dan memperkaya khazanah batik khas Jambi, terutama dari segi motif. Pasar pun berkembang sampai ke kecamatan dan desa. Pembatik di kabupaten itu menelurkan kreasi atau motifnya sendiri, sesuai dengan kekayaan alam kabupaten bersangkutan, yang berbeda dengan pembatik di Kota Jambi.</p>
<p>Di Kabupaten Tebo, misalnya, pembatik menelurkan motif antara lain rebung nyengeng dan sialang raja (lebah madu). Sedangkan di Sarolangun ada motif panah kubu, dan Tanjabar terkenal dengan motif kerang, serta motif bunga bangkai di Bungo. Di Kerinci ada motif encong (tulisan khas Kerinci) dan daun teh, sedangkan Kabupaten Batanghari tampil dengan motif punai merindu, daun karet, dan pohon rotan.</p>
<p>Perkembangan batik khas Jambi semakin pesat dengan adanya instruksi Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin kepada pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi untuk memakai baju batik khas Jambi setiap hari Kamis. Instruksi gubernur itu mempercepat pertumbuhan kembali batik khas Jambi. “Yang penting pakai baju batik Jambi, tidak peduli warna, kualitas, ataupun motifnya. Kebijakan ini membuat para PNS umumnya memiliki lebih dari satu lembar baju batik Jambi,” ujar Nasrul.</p>
<p>Sesungguhnya, jauh sebelumnya masyarakat sudah gandrung terhadap baju batik Jambi, hanya saja harganya terbilang mahal dibandingkan dengan harga jenis bahan pakaian lainnya. Di Jambi, sejak belasan tahun lalu orang dewasa memakai kemeja batik saat menghadiri acara pernikahan, kenduri, dan sebagainya. Sedangkan yang perempuan memakai kain dan selendang dari batik Jambi.</p>
<p>“Sebelum ada instruksi gubernur, saya sudah punya baju batik khas Jambi. Sejak setahun lalu kami memakai seragam batik Jambi ke sekolah sekali minggu, setiap hari Kamis,” kata Ishak, Kepala SD Adhyaksa, Kota Jambi.</p>
<p>“Seragam murid pun kini kami tetapkan batik Jambi. Karena sekolah kami bernaung di bawah Yayasan Adhyaksa, pada seragam batik itu ditambahkan lambang kejaksaan,” ucap Ishak.</p>
<p>Sumber : (H Nasrul Thahar) Kompas Cetak</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://batikjambi.net/batik-jambi-kembali-menggeliat.phtml/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tampil Cantik Dengan Batik Jambi</title>
		<link>http://batikjambi.net/tampil-cantik-dengan-batik-jambi.phtml</link>
		<comments>http://batikjambi.net/tampil-cantik-dengan-batik-jambi.phtml#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 13:46:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>batik jambi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://batikjambi.net/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Jambi. jambi-independent.co.id, Baju yang terbuat dari bahan dasar batik saat ini tak hanya dipakai para ibu-ibu dan bapak-bapak. Remaja di Kota Jambi pun sudah mulai menggandrungi pakaian yang terbuat dari bahan batik. Setidaknya ini terbukti dengan banyaknya toko pakaian yang menjual baju dengan bahan dasar batik. Bentuk dan modelnya lebih modern yang disesuaikan dengan selera [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jambi. <strong>jambi-independent.co.id</strong>, Baju yang terbuat dari bahan dasar batik saat ini tak hanya dipakai para ibu-ibu dan bapak-bapak. Remaja di Kota Jambi pun sudah mulai menggandrungi pakaian yang terbuat dari bahan batik. Setidaknya ini terbukti dengan banyaknya toko pakaian yang menjual baju dengan bahan dasar batik. Bentuk dan modelnya lebih modern yang disesuaikan dengan selera para remaja saat ini. Ada yang berbentuk kemeja berlengan pendek dan panjang, juga tersedia seperti dress langsung yang sangat manarik dan modern.</p>
<p>Kemudian, ada juga yang seperti tank top dan dikombinasikan dengan bahan rajutan, sehingga menambah cantik si pemakai. Menariknya lagi, pakaian dengan bahan dasar batik ini tidak hanya digunakan pada acara tertentu dan formal, kini batik pun bisa dipakai ke berbagai tempat dan suasana, seperti ke mal, supermarket dan saat berkumpul dengan teman-teman sebaya.<br />
<span id="more-5"></span><br />
Menurut Rina, karyawan Farah Fashion, toko yang khusus menyediakan berbagai jenis dasar batik, sekarang cukup banyak permintaan dari para remaja. Kata dia, sekitar sepekan lalu menyediakan baju batik dan sudah banyak remaja yang membelinya. Hanya saja, saat ini pakaian ini lebih banyak didominasi untuk kalangan remaja putri saja.    Hal senada diungkapkan Isma, dari Aini Collection yang juga menyediakan baju batik modern. Menurut dia, tokonya baru dua hari menyediakan bahan dasar batik dan sudah sangat banyak pembelinya. “Belum sampai setengah hari saja sudah dua buah pakaian yang terjual,’’ katanya.</p>
<p>Ida Suryati (21), mahasiswa salah satu perguruan tinggi, yang ditemui Jambi Independent di toko tersebut, mengaku sangat menyukai batik. Menurut dia, kini model dan motif baju batik yang tersedia beragam dan modern. ‘’Bisa digunakan bagi wanita feminim hingga yang sedikit tomboy. Cocok untuk semua kalangan remaja, biar lebih keren biasanya dikombinasikan dengan aksen pita maupun ikat pinggang kecil,” kata cewek berjilbab ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://batikjambi.net/tampil-cantik-dengan-batik-jambi.phtml/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Batik Jambi: Batik Jambi Pakai Pewarna Alamiah</title>
		<link>http://batikjambi.net/tentang-batik-jambi-batik-jambi-pakai-pewarna-alamiah.phtml</link>
		<comments>http://batikjambi.net/tentang-batik-jambi-batik-jambi-pakai-pewarna-alamiah.phtml#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 08:44:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>batik jambi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang Batik Jambi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://batikjambi.net/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Pembuatan Lebih Rumit sehingga Harganya Mahal
Jambi, Kompas.com - Perajin batik di Kota Jambi terus mengembangkan usaha batik tulis yang mereka lakoni dengan penggunaan bahan pewarnaan alamiah sehingga lebih ramah lingkungan. Penggalian warna akan membuat perajin memanfaatkan berbagasi jenis daun, akar, kulit kayu, dan kayu khas Jambi.
”Kami sudah menghasilkan belasan warna yang diolah dari tumbuh-tumbuhan khas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembuatan Lebih Rumit sehingga Harganya Mahal</p>
<p>Jambi, <strong>Kompas.com</strong> - Perajin batik di Kota Jambi terus mengembangkan usaha batik tulis yang mereka lakoni dengan penggunaan bahan pewarnaan alamiah sehingga lebih ramah lingkungan. Penggalian warna akan membuat perajin memanfaatkan berbagasi jenis daun, akar, kulit kayu, dan kayu khas Jambi.</p>
<p>”Kami sudah menghasilkan belasan warna yang diolah dari tumbuh-tumbuhan khas Jambi,” tutur Edy Sunarto, perajin batik di Sentra Batik Jambi Kampung Olak Kemang, Danau Teluk, Kota Jambi, Sabtu (6/7).</p>
<p>Ia menyebutkan sejumlah bahan alam yang telah dimanfaatkan. Kulit kayu jelutung, misalnya, dapat menghasilkan warna kuning kecoklatan. Kulit kayu merbau menghasilkan warna biru dongker, kayu lempato membikin warna kuning cerah, dan daun ketepeng menghasilkan warna abu-abu. Edy juga mencampurkan bahan alam kayu khas Jambi, bulian, dan kayu tinggi yang didatangkan dari Yogyakarta.<br />
<span id="more-3"></span><br />
Percampuran dua jenis kayu ini, menurut Edy, akan menghasilkan warna coklat muda. Jika dicampur yang lain, akan mendapatkan warna yang baru lainnya.</p>
<p>”Bulian yang berwarna coklat diproses campur dengan kayu tinggi yang berwarna coklat kemerahan akan menghasilkan warna baru, coklat muda. Pokoknya ada kemungkinan untuk mendapat warna yang lebih banyak jika terus dilakukan pengembangan,” katanya.</p>
<p>Rumit</p>
<p>Edy melanjutkan, proses pewarnaan alam pada batik jauh lebih rumit dan panjang. Untuk memperoleh warna, dibutuhkan perebusan bahan alam hingga 30 jam dengan menggunakan kayu bakar.</p>
<p>Selanjutnya, batik harus melalui proses pencelupan sekitar 15 kali, padahal setiap pencelupan membutuhkan waktu masing-masing 15-20 menit. Pencelupan yang berulang kali ini untuk mendapatkan warna lebih jelas dan pekat sehingga memberi kesan kekinian.</p>
<p>Setelah itu, masih pula dilakukan proses pengapuran untuk membuat warna tak pudar atau luntur. Karena panjangnya proses produksi, lanjut Edy, seorang perajin hanya mampu menyelesaikan pembuatan dua atau tiga kain dalam sebulan.</p>
<p>Azmiah, perajin batik setempat, mengatakan, peminat batik dengan pewarnaan alam memang masih terbatas dari kelompok menengah ke atas. Ini disebabkan harga batik yang lebih mahal karena proses pembuatannya yang rumit. Harga satu kain bisa dua kali lipat dari batik dengan pewarnaan biasa.</p>
<p>”Batik tulis sutra harganya biasa Rp 2 juta per kain, batik tulis warna alam bisa Rp 4 juta atau Rp 5 juta. Jadi, peluang ini harus dimanfaatkan perajin batik,” tuturnya. (ITA)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://batikjambi.net/tentang-batik-jambi-batik-jambi-pakai-pewarna-alamiah.phtml/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
