Batik Jambi Kembali Menggeliat
By batik jambi • Jul 20th, 2008 • Category: UncategorizedBatikindonesia.info, SETELAH terpuruk saat krisis moneter yang berlanjut menjadi krisis multidimensi tahun 1998, perkembangan batik khas Jambi kembali menggeliat sejak tiga tahun lalu. Tangan terampil remaja putri, kaum ibu, dan bahkan nenek-nenek kembali memegang canting. Menarik garis lurus, berkelok, mendatar, dan melengkung mengukir hari depan di atas kain, mengikuti pola atau berimprovisasi mengikuti suasana hati.
SANGGAR batik yang ada berderak. Tanda-tanda kehidupan pun tampak. Seperti Sanggar Batik Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Desa Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi. Wisma Batik Seri Tanjung di Jalan Prof Dr Sri Sudewi, Telanaipura, serta Yayasan Bina Lestari Budaya Jambi– Kajang Lako Art Centre di Pal 10 Kenali Asam.
Begitu pula di ratusan rumah tangga di Kecamatan Pelayangan dan Danau Teluk, serta tempat lainnya di Kota Jambi yang mengelola industri kecil batik secara sederhana. Aroma kain baru, cairan lilin yang dipanaskan, dan aroma zat pewarna kembali menyengat.
Batik khas Jambi kini tidak hanya merambah pasar lokal, tetapi regional, nasional, dan bahkan luar negeri. Usaha batik khas Jambi dengan skala menengah (20-30 pembatik) dan skala rumah tangga (2-5 pembatik) tumbuh menjamur. Dengan kekuatan warna dan motif yang khas, batik Jambi laris manis, diminati, dicari, bahkan diburu. Gerai dan galeri batik tersebar, mulai dari kelas rumah tangga hingga pusat perbelanjaan dan hotel berbintang.
Industri kecil rumah tangga yang mengelola batik secara sederhana menggelinding dan berkembang menjadi komoditas unggulan daerah ini sehingga menampung banyak tenaga kerja. “Saat ini di Provinsi Jambi terdapat lebih dari 1.500 perajin batik dengan lebih dari 100 pengusaha batik. Sekitar 80 persen di antaranya berada di Kota Jambi,” kata Kepala Subdinas Industri Kecil dan Dagang Kecil, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, H Nasrul. Satu di antaranya adalah Koperasi Kajang Lako di Danau Teluk yang memasok berbagai keperluan pembatik. Seiring dengan itu, bisnis bahan baku batik pun terangkat, mulai dari bahan dasar seperti katun, sutra, alat tenun mesin/alat tenun bukan mesin (ATBM/ ATM), pewarna, sampai canting.
Agus (33) dari Wisma Batik Jambi Seri Tanjung di Jalan Prof Sudewi mengatakan, Wisma Seri Tanjung memiliki 25 pembatik, umumnya mereka mengerjakan batik di rumah masing-masing. “Para pembatik hanya menembok (menempel lilin pada bagian tertentu) dengan upah Rp 5.000 per helai batik,” ucap Agus.
“Seri Tanjung menjual batik Jambi (kain dan selendang) dari bahan sutra ATBM dengan harga Rp 650.000, kain batik sutra untuk baju (2,5 meter) Rp 225.000 per potong. Dari bahan katun Rp 75.000-Rp 100.000 per potong. Omzet penjualan Seri Tanjung setiap bulan mencapai Rp 30 juta hingga Rp 50 juta,” katanya lagi.
Saat ini omzet penjualan batik khas Jambi setiap bulan diperkirakan Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar.
LINDA (24), penduduk Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi, adalah satu dari ribuan orang yang mendapat berkah dari kebangkitan kembali batik Jambi. Ia memanfaatkan rumah panggung yang sudah berusia hampir 100 tahun, warisan keluarganya, untuk kegiatan membatik. Di ruang tengah ukuran 4 x 5 meter dengan lantai yang ditutupi plastik usang, Linda mempekerjakan tiga orang tetangganya. “Untuk menembok di dasar batik upahnya Rp 1.250 per meter. Satu orang bisa selesai dua lembar kain (lima meter) sehari atau dengan penghasilan Rp 6.000,” ujarnya.
Perempuan muda beranak satu ini mulai belajar membatik sejak berusia 11 tahun. “Pengetahuan saya tentang batik masih rendah, saya ingin memperdalam, belajar ke Solo dan Yogyakarta, tetapi saya tidak punya uang,” tuturnya.
Menurut Linda, meskipun kecil-kecilan, hasil usahanya itu lumayan. Setiap bulan bisa ada pesanan sampai 20 lembar, kadang lebih. “Omzet saya sebulan bisa Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Satu lembar selendang sutra dijual Rp 190.000 dan kain batik katun Rp 75.000 per potong,” tuturnya.
“Satu potong batik biasanya selesai dalam tiga hari. Harga bahan sutra Rp 50.000 per meter, katun Rp 11.000, dan santung Rp 8.000 per meter. Baik bahan maupun zat pewarna tidak sulit didapat. Di sini ada Koperasi Kajang Lako yang menjualnya,” ujar Linda.
Sementara Asmia (39) menekuni usaha batik Jambi sejak dari almarhumah ibunya, Asmah. Kini ia memiliki gerai batik dengan persediaan batik khas Jambi, baik dasar katun, santung, maupun sutra dalam jumlah cukup banyak di rumahnya di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Pemilik usaha dengan 30 perajin ini pernah membuka gerai di pusat perbelanjaan, tetapi kini sudah tutup.
“Di rumah lebih laku ketimbang gerai di pasar karena peminat lebih suka datang ke rumah. Mungkin mereka menganggap harganya lebih murah,” tutur Asmia. Biarpun hanya digelar di rumah, omzet Asmia sebulan berkisar Rp 6 juta hingga Rp 10 juta, dengan keuntungan 15-20 persen.
Ibu Asmia, Asmah, termasuk perintis pengembangan atau bangkitnya kembali batik Jambi. Pada awal kemerdekaan, bersama rekannya, Zainab (almarhumah), Asmah bahu- membahu menghidupkan batik khas Jambi setelah terhenti beberapa waktu pada zaman penjajahan Jepang.
Pada saat itu Ny Asmah membuat batik khas Jambi dengan bahan pewarna kayu lampato, kulit merlang, dan nila hitam. Motifnya ditiru dari motif batik khas Jambi yang masih tersisa, di antaranya dari kain batik yang telah lapuk.
Sayang, sejak beberapa tahun lalu Asmia tak membuat lagi batik dengan bahan alami sebagaimana dilakukan ibunya dulu. Batik lapuk yang dulu ditiru ibunya kini tak ada lagi.
KINI, batik khas Jambi, baik yang terbuat dari katun, santung, maupun sutra yang dibuat dengan ATBM maupun ATM diperdagangkan secara luas. Pertumbuhannya bahkan lebih cepat dibandingkan dengan era akhir 1980-an hingga akhir 1990-an. Batik khas Jambi dicari untuk dijadikan baju, koleksi, kenang-kenangan, dan cenderamata.
“Pria yang memakai batik Jambi tampak lebih anggun, berwibawa, dan memiliki daya tarik tersendiri. Begitu pula wanita yang memakai kain dan selendang batik Jambi, tampak lebih cantik,” ujar Ida Mariyanti, tenaga fungsional dan penyuluh batik Jambi dari Subdinas IKDK.
Industri batik khas Jambi yang pada 20 tahun lalu hanya tumbuh dan berkembang di Kota Jambi, bahkan lebih sempit lagi hanya di beberapa desa di Kecamatan Danau Teluk dan Pelayangan, sejak 15 tahun lalu merambah ke kabupaten lain, seperti Kabupaten Tebo, Kerinci, Merangin, Sarolangun, dan Tanjung Jabung Barat (Tanjabar).
Kegiatan ini telah menambah dan memperkaya khazanah batik khas Jambi, terutama dari segi motif. Pasar pun berkembang sampai ke kecamatan dan desa. Pembatik di kabupaten itu menelurkan kreasi atau motifnya sendiri, sesuai dengan kekayaan alam kabupaten bersangkutan, yang berbeda dengan pembatik di Kota Jambi.
Di Kabupaten Tebo, misalnya, pembatik menelurkan motif antara lain rebung nyengeng dan sialang raja (lebah madu). Sedangkan di Sarolangun ada motif panah kubu, dan Tanjabar terkenal dengan motif kerang, serta motif bunga bangkai di Bungo. Di Kerinci ada motif encong (tulisan khas Kerinci) dan daun teh, sedangkan Kabupaten Batanghari tampil dengan motif punai merindu, daun karet, dan pohon rotan.
Perkembangan batik khas Jambi semakin pesat dengan adanya instruksi Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin kepada pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi untuk memakai baju batik khas Jambi setiap hari Kamis. Instruksi gubernur itu mempercepat pertumbuhan kembali batik khas Jambi. “Yang penting pakai baju batik Jambi, tidak peduli warna, kualitas, ataupun motifnya. Kebijakan ini membuat para PNS umumnya memiliki lebih dari satu lembar baju batik Jambi,” ujar Nasrul.
Sesungguhnya, jauh sebelumnya masyarakat sudah gandrung terhadap baju batik Jambi, hanya saja harganya terbilang mahal dibandingkan dengan harga jenis bahan pakaian lainnya. Di Jambi, sejak belasan tahun lalu orang dewasa memakai kemeja batik saat menghadiri acara pernikahan, kenduri, dan sebagainya. Sedangkan yang perempuan memakai kain dan selendang dari batik Jambi.
“Sebelum ada instruksi gubernur, saya sudah punya baju batik khas Jambi. Sejak setahun lalu kami memakai seragam batik Jambi ke sekolah sekali minggu, setiap hari Kamis,” kata Ishak, Kepala SD Adhyaksa, Kota Jambi.
“Seragam murid pun kini kami tetapkan batik Jambi. Karena sekolah kami bernaung di bawah Yayasan Adhyaksa, pada seragam batik itu ditambahkan lambang kejaksaan,” ucap Ishak.
Sumber : (H Nasrul Thahar) Kompas Cetak
batik jambi is
Email this author | All posts by batik jambi
